Kunci Rumah
Saat ini aku sedang berdiri
di depan sebuah rumah yang ditinggal pemiliknya
...
Aku datang dengan setengah berlari ke dalam sebuah kedai kopi. Dia duduk di sana, sendiri. Sebuah meja dengan dua bangku kayu kecil yang saling berhadapan. Dia memilih tempat di samping jendela kedai yang menghadap ke taman depan kedai. Secangkir cappucino panas masih mengepulkan uap panas di depannya.
" Sorry mas, sudah lama?,"
" Oh, nggak. Kira-kira 10 menit lalu. Ini minumku aja masih panas. Kamu pesan minum dulu aja," jawabnya sembari mendongak dari layar notebooknya.
" OK,".
Tak lama aku kembali dan duduk di seberangnya.
" Maaf ya tiba-tiba ngajak ketemu,"
" Santai mas, nggak sibuk kok. Lah, malah mas yang kelihatan sibuk, " sahutku. Dia menutup notebooknya lalu menyesap cappucino-nya. Foam-nya menempel sedikit di kumis tipisnya.
" Apa kabarmu, Kinanthi?," tanyanya, dia meletakkan cangkirnya dan melihat ke arahku.
Aku tersenyum, "Baik mas. Mas Arsen sendiri? Sedang tidak baik kan?, " jawabku ditambah kikik mengejek.
" Enak saja. Aku baik,"
" Hatimu yang tidak," sahutku tepat saat pelayan datang dengan pesananku. Dia hanya melihatku dengan menarik salah satu ujung bibir.
" Bukan espresso?," tebak Arsen.
" Bukan. Single origin. Asal Mandailing,"
" Hmm, pantas. Kegemaranmu," dia melihatku membaui kepulan asap di atas cangkir.
" Kedai ini ada manual brew juga? Aku baru tahu," tambahnya.
" Baru-baru ini saja,"
" Oh, sudah berapa lama kita nggak ngopi bareng ya?," dia seperti mengeluarkan pertanyaan untuk dirinya sendiri.
" Empat tahun, kurang lebih. Lebih kurasa," jawabku sembari menyesap kopiku.
Dia diam melihatku.
" Ini kesejuta kali aku melihatmu menyesap kopi tanpa gula. Tapi masih saja takjub haha," dia menyilangkan kakinya dan menaruh tangan kananya di atas kaki, tangan kirinya memainkan tissue di atas meja. Dia adalah sesuatu yang kuhindari selama 4 tahun dan sisa umurku. Harusnya.
Aku harus tahu rasanya kehujanan
Semata untuk selalu bersyukur menikmati sedikit perteduhan
...
" Thi, aku minta maaf," katanya. Cangkir-cangkir kami sudah setengah kosong.
" Lho, kenapa?," aku meletakkan garpu di atas piring browniesku.
" Karena...ya...maaf saja,"
Aku menaikkan sebelah alis.
" Hidupku berantakan sekali, mungkin...mungkin ada dosaku yang belum dimaafkan,"
Dia diam. Aku menghela napas.
" Itu sudah empat tahun lalu mas. Nggak mungkin masih kuingat-ingat,"
Dia menatapku.
" Begitu? Kalau boleh tahu, apa yang masih kamu ingat?,"
Dahiku berkerut. Bingung dengan pertanyaannya.
" Kedai-kedai kopi yang kita datangi, makanan-makanan yang kita cicipi saat travelling dengan Sani," jawabku. Dia mengangguk.
" Sani yang menyuruhku menghubungimu lagi," katanya dengan kepala menunduk.
Aku diam, karena memang tak tahu harus menyahut apa.
" Sani apa kabar?," akhirnya aku membuka suara.
" Baik,"
Kami kembali diam.
" Ibu sakit," dia membuka suara setelah hening 15 menit mengurung kami.
" Sakit apa?,"
" Entah. Stres mungkin," dia menyisir rambutnya dengan jari.
" Makanya aku minta maaf. Konyol mungkin, setelah bertahun-tahun aku baru mengakui aku salah dan minta maaf. Tapi aku lelah Thi, aku mau ini selesai. Kumulai dari kamu," dia menatapku lagi.
" Denganku sudah selesai kok mas," sahutku, kuyakinkan dengan senyum.
" Aku juga lelah. Makanya kuselesaikan sendiri,". Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
" Thi, kalau...aku cerai, kamu...,"
" Duh ngeri amat omongannya," sahutku.
" Aku nggak tahu harus gimana,"
" Mas tahu, tapi mas ragu,"
" Anakku butuh ibunya Thi,"
Aku menghela napas, " Pertahankan mas, ".
" Punya istri seperti bujang. Pergi pagi, pulang petang,"
" Maklumi saja mas, wanita karir,". Dia tak menyahut.
" Memang ada yang lain?,"
" Pernikahanku betul-betul selesai," dia diam dan melanjutkan, " Ibu sudah ikhlas kalau memang harus begini, Diandra biar ikut aku, tentu akan kuizinkan kalau ibunya mau datang,".
" Diandra masih 4 tahun mas,"
" Dipertahankan pun sia-sia Thi. Bahkan, kadang aku sangsi, apa Diandra betul-betul anakku,"
" Mas...jangan gitu lah," kataku.
" Kamu, mau jadi ibu tiri Diandra?," dia menatapku, nadanya memohon.
Aku balas tatapan mata sendu itu, kemudian aku mantap menggeleng.
" Kamu balas dendam?,"
Aku menggeleng, " Nggaklah,"
" Kalau saja betul kamu. Ada yang bisa merawat ibu di hari tua beliau. Ada yang membuatkan aku teh tiap pulang. Membantu Sani merawat tanaman. Mengajari Diandra mengeja huruf,"
Aku diam. Kupikir dia sudah keterlaluan.
" Hatiku sudah kubakar sendiri, sampai hangus. Lalu kurawat sendiri sisa lukaku. Aku tak mau menunggu orang lain. Luka yang dibuat seseorang seharusnya bukan tanggung jawab orang lain. Hatiku yang hangus tak bersisa, seharusnya bisa menjadi tempat baru untuk lainnya,".
Dia menatapku lalu kembali tertunduk.
" Kunci rumahmu, bukan aku lagi yang pegang mas. Sudah 4 tahun lalu kamu berikan ke perempuan yang sekarang istrimu itu," lanjutku. Sulit sekali menahan air mata saat ini.
" Si Pembawa Kunci sekarang punya rumah baru, kunciku dibawanya lari,"
Aku menggeleng, " Bukan urusanku lagi,".
Cangkir-cangkir kami sudah kosong.
Kami sudah di depan kedai.
" Mau ke rumahku? Menjenguk ibu?,"
Aku menatap kakiku, " Lain kali, kalau kunci rumahmu sudah kembali. Salam untuk ibu dan Sani,".
Dia mengangguk paham. Lalu kami berpisah arah pulang.
Lanjuuuut!
BalasHapusterima kasih mas kukuh hoho
HapusKeren! Tapi kok si Mas itu gitu banget yak. Udah ninggalin, tapi minta balik lagi :(( udah lah Mas, perasaan cewe yg udah tersakiti itu sulit buat balik :((
BalasHapusmudah2an di part kedua sudah jelas kenapa Arsen nikah sama yang lain. sedang diramu part 2 nya
Hapusmbrebes mili... aku, semua lakilaki gitu kah? huhu
BalasHapusHnggg beberapa aja chel...kayaknya ahahhha
Hapus